Articles

AFIRMASI DAN LOGIKA BERFIKIR - 2

Memang ada orang yang berkata bahwa kita ini harus berfikir dengan logika yang jernih. Bahkan ada pula yang menambahkan bahwa logika yang jernih ini akan semakin mengkilat tatkala dibarengi pula dengan hati nurani yang bening. Akan tetapi kalau diperhatikan dengan seksama, istilah-istilah yang mentereng tadi itu (logika yang jernih dan hati nurani yang bening), larinya tetap saja ke file-file pengetahuan yang ada di dalam otak kita. Tak lebih. Logika berfikir dari hati nurani yang jernih itu tetap saja tergantung kepada file pengetahuan yang masuk atau kita masukkan ke dalam otak kita. Buktinya, siapa yang tidak percaya bahwa hati nurani seorang bayi adalah hati nurani yang paling bersih???. Tentunya tidak ada. Hati nurani seoran bayi sangatlah bersih.  Akan tetapi lihatlah bagaimana sederhananya logika berfikir seorang bayi, PASRAH. Dia hanya PASRAH. Otak sang bayi adalah ibarat kertas putih yang siap untuk ditulisi dengan berbagai masukan. Lalu beragam isi otaknyalah yang akan menentukan warna dari logika berfikirnya selama hidupnya nantinya.

Misalnya dalam pergumulan logika berfikir kehidupan beragama, maka ada puluhan alternatif logika berfikir yang bisa kita masukkan ke dalam otak kita. Kalau mau berpedoman kepada sejarah awal perkembangan Islam (pasca kehidupan NABI), maka ada pilihan berupa logika berfikir SUNNI atau SYI’AH berikut dengan segala turunannya yang juga tak kalah banyaknya. Kalau mau merujuk ke zaman berikutnya, zaman Al Ghazali dan Rusydi, maka tersedia pilihan logika berfikir RASIONALIS atau FATALIS. Berikutnya ada pula logika berfikir yang dibingkai oleh pakem-pakem SUFISTIK atau yang serba SYARI’AT.

Belakangan inipun tersedia pula logika berfikir, yang katanya modern, yang cenderung mengajak manusia mengembangkan pandangan hidup saintifik yang diwarnai oleh paham yang katanya sekularisme, rasionalisme, pluraslisme, kapitalisme, humanisme liberalisme, empirisisme, cara befikir dikhotomis, desakralisasi, pragamatisme dan penafian kebenaran agama.

Bahkan pilihan terlawas yang tersedia disebut dengan logika berfikir Postmodernisme yang telah bergeser kepada paham-paham baru (yang katanya) berupa: nihilisme, relativisme, pluralisme dan persamaan (equality). Namun ia dapat dikatakan sebagai kelanjutan modernisme karena masih mempertahankan paham liberalisme, rasionalisme dan pluralismenya.

Lihatlah betapa rumit dan beragamnya alternatif logika berfikir yang tersedia yang bisa kita pilih. Dan nantinya pilihan-pilihan yang kita ambil itulah yang akan mewarnai hidup kita sehari-hari.

Dalam beragama, misalnya, ada orang ! yang otaknya dominan berisi file ilmu agama yang (katanya) bercorak ekstrim, maka logika berfikir dan bertindaknya juga akan menjadi ekstrim dalam pandangan orang-orang di sekitarnya yang (katanya) sedang memilih logika berfikir bercorak moderat. Begitulah, untuk pembenaran bagi logika berfikirnya itupun akan keluar berbagai alasan yang terlihat benar dan masuk akal bagi orang-orang yang mempunyai file ilmu pengetahuan yang sama, atau paling tidak bagi orang-orang yang sudah memposisikan dirinya untuk BINDING kepada suatu logika berfikir agama tersebut. 

Biasanya bagi orang-orang punya file pengetahuan agama yang banyak, maka alasan yang paling pamuncak yang diambil orang untuk pembenaran perilakunya adalah karena hal itu sudah taqdir Tuhan. Yaa…, sabda dan perintah Tuhan lagi yang kita jadikan sebagai konci pamungkas untuk membenarkan apa-apa yang kita lakukan dan juga untuk menolak apa-apa yang difikirkan oleh orang lain yang berbeda dengan file pikiran kita. Oleh sebab itu, hati-hatilah dengan orang-orang yang tahu banyak tentang hukum, tentang syariat, tentang tafsir, tentang ilmu, karena orang tersebut akan siap-siap pula menjalankan hukum, syariat, tafsir, dan ilmu tersebut dengan alasan yang tepat bagi dirinya maupun kelompoknya, akan tetapi kadangkala dalam pelaksanaannya mempunyai makna hakiki  yang sangat dangkal.

Berbagai jawaban pembenaran itu misalnya: Ini hukum Tuhan, ini sudah taqdir Tuhan, ini dibolehkan syariat agama, tidak ada larangannya kok, ini dicontohkan oleh Rasulullah dulu. Dan berbagai alasan hebat lainnya…

Duh…, yakin benar kita bahwa kita bisa paham dengan makna hakiki dari hukum Tuhan itu, yakin benar kita bahwa kita bisa mengerti suasana DADA Rasulullah saat Beliau menjalankan hukum-hukum tadi itu. Mungkin tidak banyak kita yang paham bahwa setiap hukum syariat agama dan contoh-contoh dari Rasulullah itu ada sunatullahnya, ada fitrahnya, untuk setiap zaman yang berbeda. Dan yang akan menang atau dominan pengaruhnya adalah syariat atau hukum agama yang sesuai dengan sunatullah di zamannya.

Mari kita lihat agak sejenak masalah ayat-ayat poligami ini dari kacamata sunatullah, fitrah…

Kita lihat dulu dasar hukum yang sangat populer dirujuk oleh orang-orang yang berperang kata tentang poligami ini:

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (An Nisaa’ 3)

Dan kamu se! kali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An Nisaa’ 129)

Dari dua ayat yang sederhana ini seharusnya kita juga bisa berfikir tak kalah sederhananya. Bahwa wajar saja sebenarnya kalau ada yang setuju dengan poligami ini dan ada pula yang tidak setuju. Dua-duanya sangat-sangat terwakili oleh ayat 3 surat An Nisaa’ ini. Oleh sebab itu sebenarnya tidak perlu ada yang marah-marah satu sama lainnya. Siapapun yang setuju poligami ini nggak usah marah-marah kepada yang tidak setuju. Begitu pula sebaliknya, siapapun yang tidak setuju poligami ini nggak usahlah maksa-maksa orang lain untuk berpoligami pula seperti dirinya. Poligami ini logika berfikir kita saja kok. Dan logika berfikir itu haruslah selaras dengan zamannya. Sebab kalau tidak maka “alam” di zaman itu sendiri yang akan menolaknya.

Banyak orang mengira bahwa poligami ini adalah suatu perilaku yang disyariatkan oleh agama Islam. Padahal kalau dicerna ayat diatas sampai mendapatkan kepahaman, masalah poligami ini nggak ada hubungannya sedikit pun dengan syariat agama. Poligami itu sudah ada sejak dulu kala, dan akan tetap ada sampai kapan pun. Jadi ayat-ayat diatas hanyalah bentuk-bentuk jalan keluar tentang masalah hubungan laki-laki dan perempuan yang mungkin terjadi yang penyelesaiannya difasilitasi oleh Al Qur’an. Pilihan manapun yang kita ambil, maka itu akan tetap saja sesuai dengan Al Qur’an.

Jadi orang yang tidak setuju dengan poligami itu tidak berarti bahwa dia sedang menentang syariat agama. Tidak. Akan tetapi saat itu dia tengah mengambil alternatif lain yang tersedia, yaitu untuk tidak berpoligami. Begitu juga sebaliknya, bahwa orang yang tengah menjalankan poligami itu tidak serta merta dia dianggap telah menjalankan syariat agama dengan baik. Dia cuma tengah mengambil alterlnatif lain yang difasilitasi Al Qur’an. Jadi tentang poligami ini, bagi yang menentangnya tidak perlulah marah, kecewa, dan benci kepada yang mendukung poligami. Dan bagi yang melakukannya tidak perlu pulalah menjadi sumringah yang berlebihan, mengumbar hujatan kepada orang-orang yang menentangnya. Ini masalah pilihan saja kok…

Bersambung

!

Deka

TwitterFacebookJP-Bookmark
Joomla templates by Joomlashine