Articles

WALIYYAN MURSYIDA

Ass wr wb.

Yang dirahmati Allah sahabat saya DIAN F, dan Jovanka. Menarik sekali memang kalau kita membicarakan masalah mursy! id ini. Beragam sekali konsep yang muncul untuk hal yang sama tapi dengan nama yang berbeda. Ada yang menyebutnya dengan mursyid, guru mursyid, guru suci, avatar, syekh, perantara dan sebagainya.

Memang diantara penganut agama Islam, berita dalam QS 18:17 yang memuat sebuah kalimat sederhana, yaitu Waliyyan Mursyida, menjadi salah satu dasar yang utama bagi mereka untuk mengakui adanya otoritas dan fungsi kemursyidan dalam mereka meningkatkan pemahaman spiritualitas mereka. Dan konsep ini sudah berumur sangat lama sekali, nyaris seumur perjalanan Islam sejak pasca meninggalnya Rasulullah.

Mari kita bahas sejenak pengertian umum yang dipakai orang tentang fungsi kemursyidan ini.

Ada yang menyamakan peran mursyid ini dengan peran seorang dokter. Bahwa, menurut konsep umum yang dipakai, tubuh manusia ini, terdiri dari 3 bagian yaitu: badan atau raga, jiwa, dan kemudian ruh atau spirit. Badan dan jiwa kita masing-masing bisa saja punya masalah, dihinggapi penyakit, atau berada di luar kondisi kerja normalnya. Untuk itu ada orang-orang yang kemudian meningkatkan pengetahuan dan kesensitivitasan mereka agar bisa menyelesaikan, mengobati dan melakukan terapi terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh badan dan jiwa tersebut. Makanya kemudian lahirlah ilmu kedokteran. Untuk masalah raga, ahli terapinya disebut dengan dokter umum atau dokter spesialist organ ketubuhan. Dan untuk masalah jiwa, ahli terapinya disebut dengan dokter ahli jiwa, psikolog, psikiater, dan sebagainya.

Sampai disini masih belum ada masalah yang signifikan untuk dibahas. Semua orang, tidak tergantung agama dan kepercayaannya, tidak juga ras dan bangsanya, masih bisa mempelajari dan mendapatkan ilmu tentang raga dan jiwa ini dari orang lain yang telah mendapatkan pemahaman atau ilmunya terlebih dahulu. Semua orang mendapatkan kesempatan yang sama sebenarnya. Nah yang mengajarkan ilmu tentang jiwa dan raga ini disebut dengan sebutan guru, dosen, profesor, dan sebagai. Bahkan pada taraf tertentu mereka bisa pula mengobati masalah-masalah tentang jiwa dan raga ini, sehingga mereka disebut sebagai ahli pengobatan jiwa dan raga.

Permasalahan baru mulai menyeruak tatkala orang-orang membicarakan masalah-masalah yang berhubungan ruhani atau spirit yang sangat berkaitan erat dengan kepercayaan, agama, atau spiritual seseorang. Disini mulai muncul masalah-masalah antara seorang manusia dengan Tuhan. Yang namanya spiritual pastilah berhubungan dengan spirit dan sumber dari spirit tersebut yaitu Tuhan atau sesuatu yang dituhankan dan disakralkan. Dan ternyata kalau sudah berbicara tentang Tuhan ini, seribu orang akan punya seribu satu persepsi pula tentang Tuhan. Dari yang sederhana dan menyejukkan sampai kepada yang sangat rumit-mit-mit dan membuat kening kita berkerut-marut mencernanya. Salah satu konsep yang membuat banyak orang kesulitan adalah konsep tentang guru mursyid ini.

Ada anggapan orang bahwa untuk masalah spirit atau ruhani ini ada pula ahlinya. Mirip dengan konsep dokter untuk masalah-masalah raga dan jiwa tadi diatas. Untuk mengobati masalah ruhani ini ada pula dokter ruhani. Sang dokter ruhani diyakini oleh sebagai orang yang mampu menyembuhkan segala macam problematika keruhanian umat manusia. Maka kemudian lahirlah para pakar sipritual dari berbagai aliran, agama, dan kepercayaan. Sepert yang telah disebutkan tadi, yaitu: mursyid, guru mursyid, guru suci, avatar, syekh…, beberapa istilah yang berbeda untuk hal yang nyaris sama saja sebenarnya.

Seorang mursyid (guru mursyid) dianggap sebagai sosok istimewa yang mampu membawa jiwa atau ruh seorang salik mengenal Tuhan. Tanpa peran serta, atau tanpa perkenan dari sang guru mursyid tersebut, maka kita orang-orang biasa ini dianggap tidak akan bisa berjumpa dengan Tuhan. Jadi sebagai syarat utama agar kita bisa mengenal Tuhan dengan baik, maka kita harus minta pertolongan kepada guru mursyid tersebut, kita harus mengakui kemursyidan sang guru, dan pada tahapan tertentu kita harus pula berbaiat kepadanya. Berkat dari keistimewaan dan kedekatan sang guru mursyid dengan Tuhan, maka kita juga akan bisa terbawa atau dikatrol oleh sang guru mursyid untuk dekat pula dengan Tuhan. Jadi fungsi guru mursyid tersebut adalah ibarat tali atau rantai penghubung antara kita dengan Tuhan. Tanpa sang guru, kita tidak punya otoritas untuk langsung berhadapan dengan Tuhan.

Dan sebagai sebuah rantai penghubung, maka biasanya seorang guru mursyid yang termuda haruslah mempunyai hubungan langsung dengan guru-guru mursyid di atasnya melalui sebuah tali yang disebut sebagai tali rabitah guru atau tali silsilah guru. Dalam hal ini guru termuda harus disahkan sambungan keilmuannya deng! an guru-guru sebelumnya oleh guru yang di atasnya langsung melalui sebuah upacara khusus baik secara sendirian maupun secara beramai-ramai dihadapan jemaahnya. Sambungan keilmuan dan sekaligus keruhanian tersebut diyakini orang berangkai-rangkai sampai ke Rasulullah, dan dari Rasulullah nyambung ke Jibril, dan dari Jibril barulah nyambung dengan Tuhan.

Bersambung

Deka

TwitterFacebookJP-Bookmark
Joomla templates by Joomlashine