| Beginikah Khusyu' |
|
|
|
| Ditulis oleh Yus Deka |
|
From: "Slamet Bagyo" s_bagyo@telkom. net
Assalamu ‘alaikum Wb. Wb. Bapak Abu Sangkan yang terhormat, Dua bulan yang lalu saya dipinjami teman saya buku Bapak “Berguru Kepada Allah”, saya baca isinya sangat menarik, sebuah penjelasan yang lebih mendetail dari tulisan-tulisan Bapak sebelumnya yang terbit di majalah Hidayah. Namun sebulan yang lalu saya membeli buku Bapak “Pelatihan Sholat Khusuk dan Berguru pada Allah”. Kemudian buku tersebut saya baca (Pelatihan Sholat Khusuk) kira-kira 3/4 buku tersebut selesai saya baca, adzan maghrib berkumandang. Agak terlambat kedatangan saya sehingga terpaksa menjadi makmum masbuq dengan ketinggalan 1 rakaat. Rakaat pertama dan kedua mengikuti imam seperti biasa, pada rakaat ketiga saya harus menyempurnakan yang tertinggal. Pada rakaat inilah saya mencoba untuk sholat seperti yang Bapak anjurkan : rilex, tidak terburu-buru sekehendak hati karena tidak terikat dengan jamaah. Sebisa mungkin dalam sholat pikiran hanya tertuju kepada Allah. Yang terjadi daerah hidung dan mata menjadi panas dan sontak saya menangis hingga terbata-bata (jawa: ngguguk), saya tahan tangis ini dengan menutup mulut dengan tangan kiri karena saya malu dengan jamaah yang lain. Sebuah pengalaman yang belum pernah terjadi sepanjang hidup saya. <!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Verdana; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:EN-GB;} h1 {mso-style-next:Normal; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:1; font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:Verdana; color:#0000BF; mso-font-kerning:0pt; mso-ansi-language:EN-GB; font-weight:normal; font-style:italic;} p.MsoBodyText2, li.MsoBodyText2, div.MsoBodyText2 {margin:0in; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:Verdana; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:EN-GB;} p.MsoBodyText3, li.MsoBodyText3, div.MsoBodyText3 {margin:0in; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:Verdana; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; color:#0000BF; mso-ansi-language:EN-GB; font-style:italic;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} --> Mulai saat itu setiap sholat muncul kerinduan akan suasana tersebut hingga mengakibatkan sholat saya lebih lama, biasanya 4 rakaat lima menit menjadi 10 menit. Semenjak saat itu sering dalam sholat air mata ini keluar, sudah 3 kali dalam berdoa saya menangis terbata-bata seperti kejadian yang pertama. Ada pertanyaan yang masih mengganjal di hati saya Bapak Abu Sangkan…. 1. Apakah sering keluarnya air mata saya dalam sholat ini adalah sapaan ilahi atau tangis (akting) seperti para artis dalam bermain film?. Jawab: jawabnya singkat saja. Sudah direspon oleh Allah malah bapak Slamet itu tidak mensyukurinya. Nanti kalau tidak direspon Allah lagi baru bapak akan kelabakan kembali. Mau toh tidak direspon Allah…?. Capekkan kalau tidak direspon Allah saat kita beribadah dan keseharian kita..?. 2. Saya tidak tahu apakah model yang saya pergunakan ini gaya konsentrasi ataukah dekonsentrasi ?.. Jawab: Pak Slamet tidak perlu memikirkan apakah itu konsentrasi atau dekonsentrasi. Sadari sajalah bahwa Allah sangat dekat, Dia Meliputi segala sesuatu. Lalu biarkanlah Dia memahamkan kita tentang Dia sendiri tahap demi tahap. 3. Jika roh keluar dari tubuh menuju ke Allah mengapa kita tidak mati? Jawab: Bacalah artikel saya: “Tanya tentang Pengalaman Pelatihan 21 Jan 20074. Lalu apakah bedanya orang mati dengan orang sholat khusuk? Bukankah ruh ini sama-sama keluar? Jawab: Shalat adalah latihan mati. Sama juga halnya dengan tidur. Tapi dalam shalat kita melatih mati tapi tetap dalam kondisi kesadaran penuh. Sedangkan dalam tidur biasanya kita melatih mati, tapi dalam keadaan tidak sadar. Akan tetapi kalau kita sudah melatih tidur, terutama diawal-awal tidur kita bisa mempertahankan kesadaran kita kepada Allah, nati kalau dalam tidur itu kita bermimpi, dan kita sudah melatih diri untuk mati dalam keadaan sadar (seperti dalam shalat), maka nanti dalam tidur yang bermimi itu kita bisa sadar bahwa kita saat itu tengah bermimpi. Cobalah.
Jawab: Dalam shalat kita akan tetap mendengar keadaan sekeliling kita. Akan tetapi kalau objek fikir kita sudah benar tepat Ke Allah, tidak musyrik lagi, tidak ada lagi objek fikir selain Allah, … Haniefan musliman wamaa ana minal musyrikin, maka nanti Pak Slamet akan terheran-heran sendiri bahwa kita seperti terpisah dengan hiruk pikuknya sekeliling kita. Latihlah, insyaallah bisa. Demikian dulu pak surat saya ini mudah-mudahan saya segera mendapat balasan. Salam sejahtera untuk keluarga dan Bapak Slamet Oetomo.
Tegal, 9 Maret 2007 Slamet Bagyo di Tegal Wass Deka on behalf of Abu Sangkan
|
| LAST_UPDATED2 |
copyright2009@ www.shalatcenterjabar.org
Jl. Turangga Timur No.6 Telp:022.7312993 Fax:022.7312443
Bandung - Jawa Barat